Apakah Kerja Seks Membebaskan?

Beberapa hari yang lalu kami membaca backlash dari publik sebagai respon atas artikel Magdalene yang tidak hanya mendapatkan kritikan keras dari kelompok konservatif, tapi juga menjadi perdebatan dalam kelompok feminis sendiri.

Karena banyak sekali black campaign yang menyerang kelompok feminis tanpa bisa melihat berbagai macam aliran/pandangan yang bisa berbeda di setiap isu, IF memutuskan untuk menjelaskan posisi kami terkait artikel Magdalene tersebut:

1. Menolak praktik/diskriminasi terhadap pekerja seks yang selama ini sering dilakukan oleh aparat negara sebagaimana yang diterapkan di Indonesia cenderung memperberat posisi perempuan.
Apakah ada praktik kriminalisasi yang lebih tepat?
Itu pertanyaan yg harus dijawab oleh kebijakan publik pemerintahan, tapi saat ini praktiknya hanya memperburuk situasi yang ada.

2. Kami tidak menyarankan seseorang menjadi pekerja seks di Indonesia karena sangat rentan menerima kekerasan. Tidak ada perlindungan dari negara, stigma yang berat dari masyarakat dan lain-lain.
Prostitusi eksis karena adanya budaya patriarkal.
Kita tidak boleh menolak fakta bahwa pekerja seks didominasi oleh perempuan.

3. Pemerintah RI harus bisa melakukan hal-hal fundamental untuk memperbaiki kondisi perempuan di berbagai area, termasuk prostitusi seperti misalnya: kesetaraan dalam hukum, pekerjaan layak, sistem pemulihan bagi korban kekerasan seskual, pemberantasan kekerasan seksual, dan perdagangan manusia.

4. Kami menentang untuk menganggap lembaga pernikahan sebagai musuh dan mendukung reformasi institusi keluarga hingga setara/egaliter. Tidak ada kekerasan dalam rumah tangga, semua berperan aktif dalam pekerjaan domestik, tidak ada marital rape dan seterusnya.

5. Seorang istri yang berhubungan seksual dengan suaminya secara konsensual bukanlah budak seks, justru akan sangat berbahaya jika melihat seks hanya dalam kacamata transaksional.
Pernikahan lebih dari sekedar seks, yaitu hubungan antar pasangan yang setara. Setara dalam hal ini adalah seharusnya di dalam pernikahan tidak ada perbudakan, tapi hubungan kasih sayang untuk membangun hidup bersama antar dua orang dan anak-anaknya (jika ada).

6. Derajat semua manusia sama. Termasuk istri dan pekerja seks. Tidak ada yang lebih tinggi/rendah, sama-sama perempuan dan sama-sama manusia.

7. Glamorisasi pekerja seks sebagai sebuah pilihan yang membebaskan dapat membahayakan perempuan itu sendiri karena tidak adanya perlindungan dari negara terhadap pekerja seks dan mereka rawan terhadap kekerasan seksual.

8. Komunitas feminis, dalam spektrum dan aliran apapun seharusnya menjaga dialog dari narasi misoginis yang merendahkan perempuan untuk meninggikan perempuan lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *